
Jakarta – Mi menjadi salah satu makanan yang mudah ditemukan dan digemari di berbagai negara Asia. Rasanya yang beragam serta cara penyajiannya yang praktis membuat mi kerap masuk dalam menu sehari-hari.
Namun, kebiasaan mengonsumsi mi terlalu sering perlu diperhatikan. Sebuah penelitian terhadap orang dewasa di Korea Selatan menemukan adanya hubungan antara frekuensi konsumsi mi yang tinggi dengan risiko sindrom metabolik.
Sindrom metabolik bukan satu penyakit tunggal, melainkan kumpulan beberapa faktor risiko seperti lingkar pinggang berlebih, tekanan darah tinggi, kadar gula darah yang tidak normal, serta gangguan kadar lemak darah. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan diabetes tipe 2.
Penelitian Melibatkan Ribuan Orang
Penelitian yang diterbitkan dalam Asia Pacific Journal of Clinical Nutrition menganalisis data 10.505 orang dewasa Korea Selatan.
Data tersebut berasal dari Korea National Health and Nutrition Examination Survey periode 2012-2016. Para peneliti kemudian melihat pola makan peserta, termasuk seberapa sering mereka mengonsumsi makanan berbahan mi.
Hasil penelitian menunjukkan kelompok yang paling sering mengonsumsi mi memiliki risiko sindrom metabolik sekitar 48% lebih tinggi dibandingkan kelompok dengan konsumsi yang lebih rendah.
Peneliti juga menemukan adanya perbedaan pada beberapa faktor metabolik, termasuk kadar trigliserida dan lemak di area perut.
Meski demikian, hasil tersebut menunjukkan hubungan, bukan berarti konsumsi mi secara langsung menjadi penyebab sindrom metabolik. Pola makan dan gaya hidup lain juga dapat memengaruhi risiko seseorang.
Mengapa Mi Perlu Diperhatikan?
Salah satu alasannya berkaitan dengan jenis bahan yang digunakan. Banyak produk mi dibuat dari tepung yang telah melalui proses pengolahan dan relatif rendah serat dibandingkan sumber karbohidrat utuh.
Ketika makanan tinggi karbohidrat olahan dikonsumsi dalam jumlah besar, kadar gula darah dapat meningkat lebih cepat. Jika menjadi kebiasaan dalam jangka panjang dan disertai pola makan yang kurang seimbang, kondisi tersebut dapat berkontribusi terhadap masalah metabolik.
Karena itu, bukan hanya jenis mi yang perlu diperhatikan, tetapi juga porsi dan makanan pendampingnya.
Kandungan Garam Juga Menjadi Perhatian
Mi instan dan mi dengan kuah berbumbu biasanya memiliki kandungan natrium yang cukup tinggi. Asupan natrium berlebihan dapat meningkatkan tekanan darah pada sebagian orang.
Tekanan darah tinggi merupakan salah satu faktor risiko dalam sindrom metabolik dan juga berkaitan dengan kesehatan jantung serta ginjal.
Karena itu, mengonsumsi mi dengan kuah atau bumbu dalam jumlah banyak secara terus-menerus bukan kebiasaan yang ideal.
Tidak Perlu Menghindari Mi Sepenuhnya
Kabar baiknya, mi tidak harus langsung dicoret dari menu. Yang lebih penting adalah mengatur frekuensi, porsi, serta memilih bahan dan pendamping yang lebih bernutrisi.
Mi berbahan gandum utuh atau soba dapat menjadi alternatif karena umumnya menyediakan lebih banyak serat dibandingkan mi yang dibuat dari tepung olahan.
Saat mengonsumsi mi, tambahkan berbagai sayuran seperti sawi, wortel, brokoli, atau bayam. Lengkapi pula dengan sumber protein seperti telur, tahu, tempe, ikan, atau ayam.
Cara tersebut membuat satu porsi makanan menjadi lebih seimbang dan tidak hanya didominasi karbohidrat.
Sesekali Boleh, Jangan Jadi Menu Utama Setiap Hari
Menikmati semangkuk mi sesekali bukan berarti langsung membahayakan kesehatan. Masalah dapat muncul ketika mi menjadi makanan utama yang terlalu sering dikonsumsi sementara asupan sayuran, protein, serat, dan makanan bergizi lainnya kurang.
Jadi, jika mi termasuk makanan favorit, tidak perlu menghindarinya sepenuhnya. Batasi frekuensinya, perhatikan porsinya, kurangi bumbu tinggi natrium, dan lengkapi dengan sayuran serta protein.
Pola makan secara keseluruhan tetap menjadi faktor yang jauh lebih penting dalam menjaga kesehatan metabolisme tubuh.