
Jakarta – Keinginan makan secara tiba-tiba saat sedang mengalami tekanan emosional ternyata tidak selalu berasal dari rasa lapar sebenarnya. Ketika seseorang ingin menyantap makanan tertentu saat stres, sedih, atau merasa lelah, kondisi tersebut bisa menjadi tanda adanya emotional eating atau makan karena dorongan emosi.
Dikutip dari Healthline, emotional eating merupakan pola makan yang muncul akibat perasaan tertentu, bukan karena tubuh membutuhkan energi dari makanan.
Banyak orang tanpa sadar menjadikan makanan sebagai bentuk pelarian ketika menghadapi stres, kebosanan, kesepian, atau rasa lelah. Biasanya, makanan yang dicari bukan sekadar untuk menghilangkan lapar, melainkan untuk memberikan rasa nyaman.
Berbeda dengan rasa lapar fisik yang muncul secara perlahan dan masih dapat dikendalikan, lapar emosional sering datang secara mendadak serta terasa sulit ditahan. Seseorang yang mengalami kondisi ini biasanya memiliki keinginan kuat terhadap makanan tertentu, terutama yang tinggi gula, lemak, atau karbohidrat seperti cokelat, gorengan, dan makanan cepat saji.
Mengapa Stres Bisa Memicu Keinginan Makan?
Ketika tubuh berada dalam kondisi stres, hormon kortisol dapat meningkat. Hormon tersebut berperan dalam berbagai respons tubuh dan dapat memengaruhi nafsu makan seseorang.
Selain itu, makanan dengan rasa manis atau tinggi lemak dapat merangsang pelepasan zat kimia di otak seperti dopamin yang memberikan sensasi nyaman atau menyenangkan. Namun, rasa puas tersebut biasanya hanya berlangsung sementara.
Jika terus dilakukan, kebiasaan makan akibat emosi dapat berubah menjadi pola yang sulit dihentikan. Contohnya, seseorang terbiasa membeli makanan favorit setiap kali merasa lelah setelah bekerja. Lama-kelamaan, otak akan menghubungkan kondisi emosional tertentu dengan keinginan untuk makan meski tubuh sebenarnya tidak membutuhkan makanan.
Cara Mengurangi Kebiasaan Emotional Eating
Langkah awal untuk mengatasi emotional eating adalah memahami perbedaan antara lapar fisik dan lapar emosional.
Sebelum mengambil makanan, coba tanyakan kepada diri sendiri apakah tubuh benar-benar membutuhkan asupan atau hanya sedang mencari pelampiasan akibat emosi. Jika baru saja makan tetapi tetap ingin ngemil karena sedang mengalami suasana hati buruk, kemungkinan besar dorongan tersebut berasal dari faktor emosional.
Healthline menyarankan untuk mencari alternatif lain dalam mengelola perasaan selain menggunakan makanan sebagai pelarian. Beberapa kegiatan yang dapat dicoba antara lain berjalan santai, berbicara dengan orang terdekat, mendengarkan musik, melakukan latihan pernapasan, atau menulis jurnal.
Mencatat perasaan dan kebiasaan makan juga dapat membantu seseorang menemukan pola tertentu yang memicu keinginan makan berlebihan.
Selain mengelola emosi, menjaga kebutuhan dasar tubuh juga penting. Kurang tidur, jadwal makan yang berantakan, atau menjalani diet terlalu ketat dapat membuat seseorang lebih mudah mengalami emotional eating.
Pada dasarnya, makan karena emosi merupakan hal yang cukup umum terjadi. Namun, jika kebiasaan tersebut semakin sering muncul dan sulit dikendalikan, dampaknya dapat memengaruhi kesehatan tubuh maupun kondisi mental. Mengenali penyebabnya sejak awal dapat membantu membangun hubungan yang lebih sehat dengan makanan.