
Jakarta – Garam merupakan bumbu dapur yang hampir selalu digunakan dalam masakan. Selain menambah cita rasa, garam juga berperan penting dalam menjaga keseimbangan cairan tubuh, mendukung fungsi saraf, serta membantu kerja otot.
Belakangan ini, garam Himalaya atau pink salt semakin populer dan sering disebut sebagai pilihan yang lebih sehat dibandingkan garam putih. Namun, benarkah anggapan tersebut sesuai dengan bukti ilmiah?
Pada dasarnya, baik garam pink maupun garam putih sama-sama berfungsi sebagai sumber natrium klorida. Perbedaannya terletak pada proses pembentukan, kandungan mineral, dan keberadaan yodium pada garam putih.
Pink salt berasal dari Tambang Garam Khewra di Pakistan. Warna merah mudanya muncul karena kandungan mineral alami, terutama zat besi, serta sejumlah mineral lain seperti magnesium, kalsium, dan kalium. Kandungan natriumnya juga sedikit lebih rendah dibandingkan garam dapur biasa, sehingga banyak orang menganggapnya lebih menyehatkan.
Namun, dikutip dari NDTV Food, hingga kini belum ada bukti ilmiah yang kuat yang menyatakan garam pink memberikan manfaat kesehatan yang jauh lebih baik daripada garam putih.
Sebagian besar manfaat yang sering dikaitkan dengan garam pink sebenarnya merupakan fungsi dasar natrium klorida yang juga dimiliki semua jenis garam.
Ahli gizi Dajmeet bahkan mengingatkan agar masyarakat tidak terburu-buru mengganti seluruh penggunaan garam putih dengan garam pink.
“Sejak banyak orang mengganti penggunaan garam putih dengan garam pink, masalah tiroid meningkat. Garam putih mengandung yodium yang sangat penting untuk fungsi tiroid,” ujarnya.
Yodium merupakan zat gizi penting yang dibutuhkan tubuh untuk menjaga fungsi kelenjar tiroid dan mencegah gangguan seperti gondok. Karena tubuh tidak dapat memproduksinya sendiri, kebutuhan yodium harus dipenuhi melalui makanan atau garam beryodium.
Selain itu, natrium yang terkandung dalam garam juga berperan menjaga keseimbangan cairan, membantu penghantaran sinyal saraf, hingga mendukung kontraksi otot. Asupan natrium yang cukup bahkan dapat membantu mengurangi risiko kram, terutama pada orang yang aktif berolahraga.
Di sisi lain, garam pink memang mengandung sekitar 84 jenis mineral, termasuk kalium, magnesium, dan kalsium. Akan tetapi, jumlah masing-masing mineral tersebut sangat kecil sehingga kontribusinya terhadap kebutuhan gizi harian tergolong minim.
Sebagai contoh, seseorang harus mengonsumsi garam pink dalam jumlah sangat banyak hanya untuk memenuhi kebutuhan kalium harian, sesuatu yang tentu tidak disarankan karena dapat meningkatkan asupan natrium secara berlebihan.
Meski demikian, garam pink tetap dapat digunakan sebagai alternatif, terutama bagi orang yang menyukai cita rasa atau ingin menggunakan garam yang minim proses pengolahan. Namun, penggunaannya lebih tepat sebagai pelengkap atau taburan makanan, bukan menggantikan sepenuhnya garam beryodium.
Apabila memilih menggunakan garam pink, pastikan kebutuhan yodium tetap terpenuhi dari sumber lain seperti ikan laut, rumput laut, susu, atau makanan yang diperkaya yodium.
Dari sisi ekonomi, garam putih juga masih menjadi pilihan yang lebih terjangkau untuk kebutuhan memasak sehari-hari. Karena itu, para ahli menilai yang paling penting bukan memilih jenis garam tertentu, melainkan membatasi konsumsi garam sesuai anjuran dan memastikan asupan yodium tetap tercukupi.