WOLDNEWSWAVE — China semakin bersemangat untuk mengembangkan teknologi, terutama kecerdasan buatan (AI).
Negeri Tirai Bambu baru-baru ini melakukan beberapa kemajuan teknologi yang cukup membuat dunia heboh.Chip kuantum 1 kuadriliun Zuchongzhi-3, Manus AI, dan DeepSeek adalah ketiganya.
Ketiga, ini menunjukkan upaya nyata China untuk mengambil alih dominasi teknologi AI dari Amerika Serikat.
Dalam industri ini, persaingan antara China dan AS semakin sengit, terutama setelah AS memberlakukan sanksi bertubi-tubi terhadap perusahaan China selama pemerintahan Trump awal.
Ulasan singkat berikut menunjukkan bahwa China tidak tinggal diam dalam mengembangkan teknologinya sendiri.
Saat ini, pendiri perusahaan rintisan kecerdasan buatan (AI) DeepSeek, yang didirikan oleh Liang Wenfeng dari China, menjadi perhatian besar di industri teknologi. Dalam beberapa minggu, orang yang dulunya tertutup ini berubah menjadi inspirasi bagi China dalam menghadapi kontrol ekspor teknologi yang ketat yang diterapkan AS.
DeepSeek, chatbot AI yang bikin AS ketar-ketir
DeepSeek adalah aplikasi chatbot berbasis kecerdasan buatan (AI) dan model AI. Formatnya hampir sama dengan chatbot AI lainnya.
AI ini dapat menganalisis data, membuat konten sesuai permintaan, dan memberi pengguna jawaban cepat. Reputasinya terus meningkat pesat sejak dirilis.
Selain menjadi aplikasi gratis teratas di Apple App Store di 111 negara, DeepSeek juga menduduki peringkat pertama dalam daftar aplikasi gratis Google Play Store di 18 negara, menurut data Appfigures.
Karena keberhasilannya, DeepSeek dianggap memiliki kemampuan untuk melampaui chatbot AI lainnya, seperti ChatGPT milik OpenAI dan Gemini milik Google. Dengan keunggulannya, DeepSeek semakin berpeluang untuk mendominasi pasar AI di seluruh dunia.
High Flyer, sebuah perusahaan rintisan yang berbasis di Hangzhou, China, yang dipimpin oleh Liang Wenfeng, adalah pencipta Chatbot AI DeepSeek.
Perusahaan ini didirikan pada tahun 2015 dan berkonsentrasi pada pembuatan komputasi yang lebih canggih yang dapat digunakan untuk menganalisis data keuangan.
Kemudian, pada tahun 2023, Liang Wenfeng mengalihkan perhatian perusahaan ke pembangunan DeepSeek untuk mengembangkan model AI yang inovatif.
Sejak saat itu, DeepSeek telah meluncurkan dua model AI terbarunya, DeepSeek V3 dan DeepSeek R-1.
Pada Desember 2024, DeepSeek V3 dirilis. Model ini menggunakan basis Mixture-of-Experts (MoE), yang memiliki 671 miliar parameter.
Namun, model ini lebih efisien dan menghemat daya komputasi karena hanya 37 miliar parameter yang diaktifkan per token selama proses inferensi.
Menyelesaikan tugas-tugas umum, seperti menjawab pertanyaan sehari-hari, dan membuat konten kreatif, adalah kemampuan DeepSeek V3.
Satu bulan kemudian, DeepSeek merilis model keduanya, DeepSeek R-1. Model ini disebut memiliki kemampuan yang andal dan efisien meskipun ditenagai chip AI berspesifikasi rendah. Ini membuat heboh dunia teknologi.
Berbeda dengan DeepSeek V3, DeepSeek R-1 memiliki kemampuan bernalar yang diperluas.
Metode penguatan pembelajaran bermanfaat untuk meningkatkan kemampuan penalaran (reasoning) dan pemecahan masalah kompleks dalam model ini.
Salah satu keunggulan DeepSeek R-1 adalah kemampuan untuk menampilkan proses atau langkah berpikir sebelum mencapai kesimpulan.
SUMBER TEKNO.KOMPAS.COM : 3 Gebrakan Teknologi China yang Bikin Heboh Dunia