
Jakarta – Praktis, murah, dan punya banyak pilihan rasa membuat mi instan sulit dipisahkan dari keseharian sebagian orang. Namun, menjadikannya sebagai menu setiap hari bukan pilihan yang ideal karena kandungan gizinya belum cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh.
Mi instan memang dapat menjadi makanan cepat saji ketika sedang sibuk atau ingin menghemat pengeluaran. Masa simpannya yang panjang juga membuat makanan ini mudah disimpan sebagai stok di rumah.
Meski demikian, mi instan umumnya memiliki kandungan natrium yang cukup tinggi dan serat serta sejumlah zat gizi penting yang relatif rendah. Karena itu, frekuensi dan cara penyajiannya perlu diperhatikan.
Dilansir dari Independent, berikut sejumlah hal yang perlu diketahui sebelum terlalu sering menjadikan mi instan sebagai menu harian.
1. Praktis, murah, dan mudah disimpan
Salah satu alasan mi instan begitu populer adalah cara memasaknya yang sederhana. Dalam beberapa menit, mi sudah dapat disajikan bersama bumbu yang tersedia di dalam kemasan.
Harganya yang relatif terjangkau juga membuatnya sering menjadi pilihan bagi pelajar, pekerja, maupun keluarga yang ingin menghemat pengeluaran makanan.
Selain faktor praktis, mi instan juga memiliki nilai emosional bagi sebagian orang. Berbagai merek dan varian rasa dapat mengingatkan seseorang pada makanan yang biasa dikonsumsi sejak kecil atau ketika tinggal jauh dari rumah.
2. Apa saja kandungan gizinya?
Mi instan umumnya dibuat dari tepung terigu, air, garam, dan minyak. Setelah melalui proses pengolahan tertentu, mi dikeringkan sehingga dapat disimpan dalam waktu cukup lama.
Produk tersebut kemudian dilengkapi bumbu yang memberikan rasa gurih. Beberapa jenis mi juga dilengkapi bahan tambahan seperti sayuran kering atau taburan bawang.
Masalahnya, komposisi gizi mi instan belum tentu seimbang. Banyak produk mengandung natrium dalam jumlah cukup tinggi, sementara kandungan serat, vitamin, mineral, dan protein dapat relatif rendah.
Menurut WHO, orang dewasa sebaiknya mengonsumsi kurang dari 2.000 mg natrium per hari, atau setara dengan kurang dari 5 gram garam. Karena itu, kandungan natrium pada mi instan perlu diperhatikan, terutama jika dalam sehari seseorang juga mengonsumsi makanan tinggi garam lainnya.
3. Kenapa tidak ideal jika dimakan setiap hari?
Mi instan memang dapat memberikan rasa kenyang, tetapi rasa kenyang tersebut tidak selalu berarti kebutuhan nutrisi tubuh sudah terpenuhi.
Kandungan karbohidratnya cukup dominan, sedangkan serat dan protein biasanya tidak sebanyak yang terdapat dalam menu lengkap. Jika dikonsumsi sendirian secara rutin, pola makan menjadi kurang beragam.
Asupan natrium yang tinggi secara terus-menerus juga perlu diwaspadai karena berkaitan dengan peningkatan tekanan darah pada sebagian orang. Tekanan darah tinggi sendiri merupakan salah satu faktor risiko penyakit kardiovaskular.
Sementara itu, sebuah penelitian pada orang dewasa di Korea Selatan menemukan adanya hubungan antara konsumsi mi instan yang sering dengan risiko sindrom metabolik yang lebih tinggi, terutama pada kelompok perempuan.
Namun, temuan tersebut merupakan hubungan atau asosiasi dan tidak membuktikan bahwa mi instan secara langsung menyebabkan sindrom metabolik. Pola makan dan gaya hidup seseorang secara keseluruhan juga dapat memengaruhi risiko tersebut.
4. Mi instan tetap bisa dibuat lebih bernutrisi
Tidak harus menghilangkan mi instan sepenuhnya dari menu. Salah satu cara yang lebih baik adalah menjadikannya bagian dari hidangan yang lebih lengkap.
Tambahkan sayuran seperti sawi, bayam, brokoli, wortel, atau kol untuk meningkatkan asupan serat, vitamin, dan mineral.
Sumber protein juga dapat ditambahkan, misalnya telur, ayam, tahu, atau tempe. Dengan begitu, makanan tidak hanya didominasi oleh karbohidrat.
5. Kurangi penggunaan bumbu
Sebagian besar natrium pada mi instan dapat berasal dari bumbu yang menyertainya. Menggunakan seluruh isi bumbu sachet dapat membuat asupan garam dalam satu kali makan menjadi lebih tinggi.
Jika ingin mengurangi asupan natrium, gunakan sebagian bumbu saja. Rasa dapat diperkuat dengan bahan seperti bawang putih, daun bawang, cabai, jahe, lada, atau rempah lainnya.
Cara lain adalah memilih produk yang mencantumkan kandungan natrium lebih rendah pada label nutrisinya.
6. Jangan jadikan mi instan sebagai menu utama setiap hari
Sesekali menikmati mi instan umumnya berbeda dengan menjadikannya makanan yang dikonsumsi setiap hari. Yang perlu diperhatikan adalah pola makan secara keseluruhan.
Usahakan menu harian tetap bervariasi dengan memasukkan sumber protein, sayuran, buah, biji-bijian utuh, dan makanan bergizi lainnya.
Dengan demikian, mi instan masih dapat dinikmati sebagai makanan praktis tanpa membuat kebutuhan nutrisi sehari-hari terlalu bergantung pada satu jenis makanan.